Monday, February 29, 2016

BAHTERA

By; Eris Herisno

Hari ini….
Alam bersiap menyambut mentari
Setelah lama ditemani malam yang kelam
Ya.., pagi ini
Kucoba kembali merangkai kata
Tentang hidupku..
Tentang perjalanan sang petualang
Yang tak kenal lelah mencari bintang
Di dunia yang fana ini
…kuawali..
Saat kumasih sendiri, berteman sepi
Lalu…
Saat cinta monyet menjadi trendi..
Dan menepinya rasa ini pada sang teman kelas
Tapi bisu…
Hingga menjauh, entah kemana
Lalu bergulir waktu
Satu persatu berlabuh
Bersandar di dinding hati
…tapi…semua hanya rasa tanpa makna
Sepi dari kenangan
Hingga…,
Kau hadir
Mengubah nada hidupku menjadi lagu
Kalimat demi kalimat terukir manis
Terpahat di prasasti masa
Indah…
Seindah dunia milik berdua
…begitulah perjalanan terangkai
Terajut, menyatu, menjadi baju
Bentangkan layar arungi samudera
Melaju bersama, mengoyak ombak agar tersibak
Lalu kita berkata pada dunia…
‘’INI BAHTERAKU’’
Dan aku bangga…




DIARY-KU

By; Eris Herisno

Aku…
Terlahir 1974 yang t’lah berlalu
Dari keluarga sederhana
dan yang bercita-cita sederhana
ibu bapakku, bukan seorang ulama
atau maha kaya raya
yang berlimpah warisan, tuk bahan rebutan
…masa kecilku
penuh dengan lagu      
lagu rindu,
tentang anak desa yang lugu
Nyanyikan dimalam sunyi, nan sepi
Berteman kawan malam, saat ronda menjelang
Aku…
Pernah kerja jual kelapa
Panjat sendiri, menggapai langit tak bertepi
Sekedar buat jajan..
Atau ganjal perut menahan lapar
Lalu menjadi pemulung, menelusuri tiap sudut kampung
Atau mencari kayu bakar, hingga menyebrangi sungai citanduy
Dan menjual kartu ucapan, saat lebaran
Aku,
Yang hidup dari keluarga sederhana
Yang makan apa adanya
Di usia belasan tahun…
pernah mencoba kerja pembuat muka sandal
Berangkat pagi, pulang sore
Lagi-lagi, sekedar buat penuhi saku, untuk jajan
….Entah berapa lama, kujajaki semua jenis kerja
Hingga menjadi penjahit, ke ibu kota
Lalu…,  mencoba belajar jenis keterampilan, bordir lukisan
Sebuah keterampilan, yang menghantarkanku menuju mahligai
Sejak itu…
Sang Dewi cinta menghampiri
Bersama bekerja sambil mencuri cinta
Kita bertemu, di alam yang sama
Di tempat yang sama, di jabatan yang sama
Sebagai sang operator
Cinta kita tumbuh, di dalam kondisi ekonomi lumpuh
Lalu ….
Kita melangkah kepelaminan.
Menyibak belantara kehidupan                              
Arungi samudera bersama
Dalam suka dan duka
…seminggu setelah kita dayung sampan berdua
Kita mandiri..
Tinggalkan mertua.., menuju asa
Dari rumah kerumah..
Kita ngontrak, hadapi badai bersama
Tergulung ombak, juga bersama
Waktu itu…
Hanya sehelai tikar, sekdar buat alas dari  dinginnya lantai
Dan berapa bantal, serta alat dapur yang kita bawa
…Beb…, 14 kontrakan sudah…kita jajakki
9 tempat sudah…, kita singgahi
Aku bekerja, kamupun bekerja,
kita sama sama
Jalan bersama, makan bersama,
Susah senang… atau tertawa, kita  bersama
Lalu…
Kamu kuliah…
Mencoba bersaing di dunia baru
Dan aku…mencoba pergi
Bekerja dikota besar
Tingalkan kamu, sendiri dalam sunyi
Bagiku, Ini ujian
Yang harus dihadapi bersama
Tahun.., bulan.., berganti
Hingga tuhan berikan kita kemandirian
Dan…, semua yang kita punya
Terlahir dari keringat, bukan dari warisan
Kita syukuri semua ini
Kita bangga dengan semua yang Allah berikan
Tanpa pertolonganNYA
Kita bukan apa apa
Alhamdulillah…,Dunia-pun terbalik
Lengkap sudah yang ALLAH berikan
Ditemani 3 mawar yang tumbuh mekar
Mewangi setiap hari
…biarlah
Biarkan saja orang-orang tersungging sinis
Yang tak tahu jalan perjuangan kita
Kita kan terus melangkah saja
Jalani dan syukuri
Semua karuniaNYA
..mungkin badai takkan reda
Kan terus mengintai, tuk gulingkan sampan
Oleh ombak yang tak lelah menerjang
Seperti godaan sang venus
Yang selalu terhunus
Dan selalu menghantui setiap pagi
Yang ku akui, terlalu mempesona sinari hati
Atau godaan sang kuncup
Yang t’lah mekar dan berbuah Satu
Yang selalu membuatku terkapar, oleh wanginya
Kita saling maafkan saja
Karna godaan cinta adalah ciri dewasa
Aku.., memang sang petualang
Sang pencari harapan.
---cling..ngiles---

KERUDUNG LEBAR

By; Eris Herisno


Hari itu…
Aku terpana
Kaki terpaku tak mampu melangkah
Seperti ada beban maha berat, di pundak asa
Seperti dihantam godam
Membuat hilang semua kesadaran
Hari itu…
Aku tersihir
Oleh anggunnya gayamu
Pesonanya sinar sucimu
Warna coklat muda, kerudung menjuntai
Merenggut jiwaku, hingga terkapar
Lemas…
Dihempas badai ganas
Hari itu..
Ya…hari itu
Di depan BANK BCA…
Kau keluar, melangkah tegar..
Tatapan tajam menghujam
Mengiris hati, perih tak terkira
Kau Kendalikan mobilmu, lalu pergi mendayu
Tinggalkan sang petualang meregang
Dan terduduk bisu
Dilantai yang dingin
Sedingin pikiran, yang kosong
Siapa kau…
Darimana kau..
Teriak batinku, menderu
Sambil menatap…,
iringi kau.., yang kian jauh

Thursday, February 18, 2016

KAU... GURUKU...

By; Eris Herisno

Menjelang siang…
Aku tertegun, disamping air terjun
Yang tercurah berurai.. seperti menangis sedih
Seperti ingin bisikkan duka yang dalam tak terkira
Bergemuruh.. silapkan semua suara di sekeliling
Kalahkan degup jantung yang kian berdegup keras..
Ku menunduk…
Menahan sakit tak tertahan
Sembari kuraba dada yang berdenyut..
Kupejamkan mata, dan hempaskan napas patah
kuTatap bebatuan licin dan basah, karna resah
yang terhampar tak berdaya
tergolek karna kejamnya dunia
dunia yang tak berpihaknya cinta
dan harapan yang terbanting kenyataan
batu itu…,Seperti ingin bicara,
Tentang perjalanan hidup
Tentang kandasnya harapan
Tentang semua luka liku di arena jagat raya
Dan tentang air terjun, yang setia menemani, tapi tanpa rasa
…sesaat kutengadah
Tatap langit biru yang beranjak pergi
Terdorong kabut tebal hitam, yang siap menerkam
Dan….
Bayangmu…, seperti hadir disana…
Membuatku terpana…
Seperti bintang yang terbang rendah
 imut mungil…
Seperti bunga awan yang melayang
Mekar dan sudah berbuah..
Semua menggoda,
lupakan perjalananku yang kian sore, menjelang malam
kau…guruku
yang selalu bersama dalam alam pikiranku
bersama menemani, disetiap petualanganku

TERTAWA

By; Eris Herisno

Hehehe….
Hari ini aku tertawa…
Saksikan dagelan dari orang orang waras
Bermain mainan anak-anak
Senda gurau dalam sidang gadang
Coret sana coret sini…
Kotorkan dasi dan kilatan sepatu
Terjun dilumpur kehidupan,
Jerumuskan raga dalam nista
Hari ini sering ku tertawa, sinis
Saksikan keangkuhan dari para pelawak jabatan
Saksikan keadilan yang di permainkan
Saksikan Kebenaran yang disimpan dalam laci kekayaan
Dan kejahatan, menjadi panggung sang pawang
Hari ini…ku benar benar tertawa, lebar
Lihat kelucan dari para hakim duna
Yang berhumor ria tanpa rasa malu
Mainkan kebatilan, jadikan topi kerajaan
Dan berdiri gagah, di teras istana
Aku…, tertaw kecil…
Tersenyum, lihat simiskin pamer berlian
Dan sikaya injak kepala sahaya
…aku tak tahu..
Sampai kapan tawaku berhenti
Sampai kapan senyumku terkatup
Sampai kapan dunia terbalik kembali
Hingga intan tetap bekiau
Dan kerikil tetap tersungkur di lumpur

Wednesday, February 17, 2016

BICARA DENGAN ALAM

By; Eris Herisno

Disini
Ku menepi, tinggalkan sejenak
Ganasnya kehidupan kota
Yang rapuh, dan kian menjauh
Dari sekenario yang harus kutempuh
Disini…
Kuhempaskan semua beban
Yang menggunung
Dan kuluruskan semua liku hidup
Membuka cakrawala inspirasi
Buyarkan semua mimpi kosong
Dari semua dunia yang menggoda
Ada ketenangan
Kesejukkan
Menyiram hati yang gundah
Lembut
Selembut sutra
Menyingkap tabir baru
Sembuhkan luka sayatan sembilu
Disini…
Selalu kupejamkan mata
Walau sesaat
Sekedar melayang diruang angan
Bercengkrama dengan pikiran alam bawah sadar
Merantau, pecahkan bongkahan galau
Menjadi serpihan mungil
Lalu terbang, dan menghilang
Disini…
Aku harus melupakan
Semua cengkraman kehidupan
Yang menipu, dari setiap sudut
Sambut asa baru
Musnahkan asa lama




Saturday, February 13, 2016

MELAYANG

By; Eris Herisno

Aku terduduk
Lesu
Disabit bulan yang terang
Kaki terjuntai
Tertusuk sudut bintang
Jiwaku
Terbakar Mentari yang meninggi
Tangga t’lah tiada
Sayapku patah
Tak ada tali yang terikat
Semua  terpisah,
Aku terduduk, dan tertunduk, lesu..
Galau…
Tak bisa turun
Tak mampu terbang
Tak mngkin loncat
Tidak terkurung, tapi terpaku tak berdaya
Ku bebas memandang,
namun …, hanya hamparan langit terbentang
tak ada ruang untuk melangkah
apalagi berlari sekencang kelinci
aku…
seperti melayang
terbang tanpa sayap
tak ada arah dan tujuan
tak ada teman berbincang
jiwaku berteriak
hatiku memekik
namun tak ada suara lantang
semua sepi
hanya tiupan angin…, sepoi
mengusik raga yang kian lemas…tak berdaya
aku…,
benar-benar t’lah sendiri
menepi
tersisih
oleh kejamnya dunia

Thursday, February 11, 2016

AKU HARUS KEMBALI

By; Eris Herisno


Aku…,
Harus kembali
Meninggalkan harapan hampa yang selalu tersimpan
padanya
Aku harus kembali
Membuang rasa tanpa makna yang selalu menggoda
darinya
Aku harus kembali
Melempar jauh, angan-angan yang rapuh
Yang setiap malam hadir, bersimpuh
Aku harus kembali
Membiarkan kuncupnya semakin mekar, semakin berbuah
Semakin mewangi ditamannya sendiri
Atau mebiarkan sang venus semakin bersinar
Melampaui batas awan
Biarlah,
semua berjalan apa adanya
Semua mengalir semestinya
Semua melangkah sesuai alurnya
Kita semua, punya evisode berbeda
Juga cerita kontras yang menjelma nyata
Aku…, ya .., aku harus kembali
Melangkah kedepan, songsong sebenar benar harapan
Aku harus segera nyalakan api hidup sesungguhnya
Agar segera membakar setiap godaan
Hembuskan angin perjuangan sekemampuanku
Lalu berlari sekencang peluru
Baru kusadari….
Tak ada rasa yang bisa dipaksa
Tak ada harapan yang melampaui catatannNYA
Sekarang…
kuKejar cita-cita yang tertunda
dijalanNYA…
dan pergi menjauh
dari mereka yang berada di fatamorgana




GODAAN DUNIA

By; Eris Herisno

Entah lah…
Sampai kapan dunia ini bergolak
Campakkan generasi kelubang nestapa
Berlumur keidupan menipu
Kita seperti tak punya wajah, tuk tunjukkan senyum memukau
Entah sampai kapan,
Kita berkerumun dalam lingkaran sia sia
Terjebak dari satu maksiat, dan masuk lagi ke maksiat yang lain
Sampai kapan…,
Ya, sampai kapan generasi ini bangun dari tidur
Lupakan mimpi mimpi tak berarti
Berkelana di alam khayal
Menuju ruang hampa
Tak ada bekal tersimpan disana
Lalu kita tertinggal oleh kenyataan
Kita ditinggal oleh mereka yang tertawa lebar
Yang sebarkan virus, lalu sembunyi dari kita yang terkapar
Bangunlah kawan…
Sadarlah wahai saudaraku
Kalian sudah menjadi santapan mereka
Yang lapar dan dahaga darah kita
Bangkitlah
Nyalakan semangatmu
Jangan terus terlena
Jangan jadi buih yang berhamburan, tanpa kekuatan
Bukalah lebar matamu
Segera bangkit, cari hakikat hidupmu
Jangan sia-siakan sisa hidup yang sementara ini
Mari saling nasihati
Bersama bergandeng tangan
Karna srigala hanya menerkam domba yang tertinggal jauh
Kuatkan daya pikirmu
Dan jernihkan
Agar terpeta , semua langkah yang sebenarnya


Monday, February 8, 2016

SYUHADA

By; Eris Herisno

Kau masih tertawa
Riang, walau berada di medan juang
Kau tersenyum,
Gembira, Walau jasadmu hancur penuh luka
Semasa hidup,
Kau tak punya waktu untuk bermain
Waktumu, adalah perjuangan
Permainanmu adalah peluru
Jiwa ragamu, t’lah kau jual
Dan Allah membelinya
Dengan syurga yang tiada tandingnya
Aku salut
Dengan nyala semangatmu
Walau…,
Harus kau tingalkan keluargamu
Menunggu berselimut cemas
Istrimu…
Sungguh luar biasa
Aku kagum, dengan ketegarannya
Kalian bak permata mahal
Yang sulit kucari dijaman rapuh
Lukamu menjadi saksi
Keringatmu adalah berlian
Yang akan menolongmu di pengadilan nanti


MUNAJAT

By; Eris Herisno

Malam ini…
Lagi-lagi kuterjaga dari mimpi buruk
Yang selalu menghantui setiap tidurku
Kuterbangun dengan napas terengah..
Dada berguncang, menahan sesak
…perlahan mata terbuka, lalu menutup lagi, sembari terduduk lesu
Lalu….
Pikiranku melayang
Jauh keseberang sana
Kepulau impian semua insan
Tentang kapal besar dan megah..
Dengan segala keharmonisan yang menggema
Dan semua interior yang terhampar berahta berlian
Dan juga…,
Tentang bidadari berkerudung lebar
Menawan hati setiap lelaki, hingga tak berkutik, terkuliti
Pesona diatas segala pesona
Itulah, yang telah membunuhku, hingga kuterkapar, tak berdaya
…mimpi itu,
Selalu terulang
Lagi dan lagi..
Seolah ingin puaskan hasrat agar ku tersiksa
…aku.., memang lelaki lemah
Lelaki rapuh.. yang selalu bersimpuh
Dalam ketak bedayaan
…ada sejuta pilihan memang
Mengubah yang tak biasa
Atau mencari yang tiada…
Tapi kuyakin…
Kamu juga pasti bisa dinda…
Kuncinya, bulatkan tekad
Tuk Raih ridhoNYA..
Si venus mungil juga bisa
Kuncup yang t’lah mekar juga bisa
…dan aku juga yakin, pasti bisa
Mengubahmu, dengan segala keterbatasanku
INSYAALLAH…
Ya ROB…. Kabulkanlah…
Aamin.

TRIO WEK-WEK

By; Eris Herisno

Satu persatu kalian berpisah
Manjakan diri di pangkuan sang idola
Akhiri masa lajang, hapuskan angan
Hingga terbang melayang tanpa beban
…satu persatu kau t’lah punya nahkoda
Berlayar bersama selamanya
Hingga kau lupa…
Pada petualang yang terluka
Petualang bisu, tanpa suara
Kini…
Tinggal satu lagi yang masih terdampar
Di pantai hati yang sepi
Berjalan sendiri menyibak pasir
Yang basah gelisah
Dia kaku..
Kejam..
Angkuh..
Seperti merpati berbulu duri
…jinak, namun mudah melukai..
Kecantikan jadi hanya sulaman
Terkikis habis oleh kesombongan
Ia mempesona…
Namun membayang, buram
Dan…
Kuyakin
Waktu jualah yang kan membuktikannya
Bahwa yang dibutuhkan
Bukan sekedar pesona

SUDUT DADAHA

By ;Eris Herisno

Disana…
Ada keramaian disetiap pagi menjelang siang
Ada debu beterbangan perihkan pandangan
Dan…,
Selalu membuat mataku terpejam
Sembunyikan rasa gundah yang membuncah
Disana…
Jauh disudut dadaha
Ada bunga yang tertanam dalam
Mengakar ditaman, tersiram madu pilihan
Hingga selalu mekar…,dan berbuah,
Tebarkan wangi, hembuskan pesona
Saat Disana…
Selalu Ada Rasa yang terhempas..
Antara rindu .., dan gelisah
Tersulam dalam lamunan
Kadang kuberdiri, dengan hati berlari
Kadang ku terduduk, dengan jiwa tertunduk
…melayang… disaat ku terdiam
Seperti ingin menggapai…,
Sesuatu yang terhulur, namun menjauh
Ya…
Disana
Disudut dadaha
Tempatmu bercengkrama
Tertidur…
Tanpa beban

ACCOUNT BARU

By; Eris Herisno

Menghilang…
Tanpa jejak
Setelah kau bentangkan layar bahtera
Lalu tiba-tiba kau datang
Dengan nama baru
Dan.., sang pendamping
…entahlah…
Sengaja…, atau memang lupa dengan sandi lama..
Tapi yang jelas…
Kamu hadir dengan nama dan kondisi serba baru
Raut mukamu ceria
Cerah, secerah siang ini..
Tapi memang harus begitu
Aku acungkan jempol untukmu
Walau jempol tersayat, bedarah
Lagi pula…
Kumenyadari dalamnya jurang ini
Yang tak mungkin ku seberangi
Tak ada jembatan
Tak ada tali membentang
Sulit…sulit…
Sesekali sering ku tengok
Dari jendela pasrah
Yang berdebu basah
Oleh cipratan air mata
Yang jatuh tak terkendali
Ku tengok, Sekedar memastikan
Kau, masih ada…
Masih berdiri…
Masih tersenyum, menembus jantung
Dan…,
Masih membentangkan jarimu


Sunday, February 7, 2016

AKU DAN ISTRIKU

By; Eris Herisno

Tak terasa..
Lama kita berpijak pada bumi yang sudah tua ini
Bersama, arungi samudera
Mengelilingi bumi, lewati belantara
Membelah awan dan lautan
…dulu…
Saat awal kita bentangkan layar
Yang robek disetiap tempat
Dengan segala keterbatasan
Kita satukan tekad di pelaminan
Akhiri masa lajang TANPA BEBAN
…Tak ada harta warisan yang kita bawa
Tak ada jabatan yang kita sombongkan
Kita berdua…
Adalah buruh pabrik yang udik…
Yang lugu
Tapi kita percaya.
Bahwa rizqi bukan kita yang mengatur
Kita yakin, barang siapa yang dekat denganNYA…
Maka IA akan menolong…
Saat itu…
Seminggu setelah nahkoda terbangun
Kita pergi untuk mandiri
Walau hanya sehelai tikar, dua bantal, dan beberapa pakaian  yang kita bawa,
Sekedar alas untuk hangatkan badan dari dinginnya lantai…
Dan…, kita tak pernah mengeluh…
Semua dijalani apa adanya
Senyum tawa dan canda duka kita goreskan
Dibuku kehidupan
Kita bukan tipe orang yang  suka pilih  pilih
Yang banyak menuntut pada tuhan …
Lalu…
…hari berganti hari…
Bulan dan tahun pun berlalu
Tak terasa…sudah 14 kontrakkan yang kita pijak
Dan 9 tempat yang kita jajaki..
Juga segudang duka dan tawa kita lewati
Aku…sang buruh
Dan kamu…sang buruh yang mencoba untuk tumbuh
Dari kuliah lagi, hingga kursus kamu geluti..
Semua mengalir apa adanya…
Lalu taqdirpun membawa kita keruang yang berbeda…
Alhamdulillah…
Kita syukuri semua nikmat ini
Semua yang kita punya
Bukan titipan dari warisan
Atau dari pasangan tajir yang sering orang impikan
Dan itu…, kebanggaan yang tak ternilai harganya.
Sekarang…
Tiga mawar t’lah tumbuh dan beranjak dewasa
Dan itu juga harta termahal yang tak mungkin dimiliki oleh yang menikah senja
Godaan bahtera, itu biasa
Karna kita hidup dilautan yang pasti dihadang gelombang
Dan kita bukan malaikat
Kita, bukan lahir dari rahim ulama
Semua cobaan hidup, kita hadapi bersama
…….
Inilah sekelumit perjalanan hidupku
Dan aku bangga
Bagaimana denganmu…?

Friday, February 5, 2016

ALUN-ALUN

By; Eris Herisno

Disitu…
Disudut alun-alun
Tertanam harapan yang terabaikan
Mungkin…, tepatnya diabaikan…
Disitu…
Mentari selalu meninggi
Membumbung menebar sinar tak tertandingi
Disitu…
Venus perkasa mengangkasa
Kecil
Imut
Tapi selalu berpisah dari etalase jagat raya
disitu…,
Tertanam pula keangkuhan…
Kesombongan
Menjauh, melewati batas awan
Disitu…
Disudut keramaian kota
Saat ramadhan tiba
Terkapar setiap sore sang petualang
Menunggu sembari membuang lelah
Namun selalu gagal,
tersungkur dirumput  kehidupan
tak ada riak dari air di sudut mengalir
apalagi gelombang menerjang
semua perasaan membisu berbaur keramaian
disitu…
ya…, disitu, disudut alun-alun kota
kamu seperti mutiara
bersembunyi
menepi
namun tetap berkilau
silaukan rasa
sekali lagi disitu
disudut itu
selalu berkecamuk dalam dada
akankah layang-layang mampu menggapai awan
atau bahkan putus dan terbang terbawa angin
disudut itu..
selalu terpajang
sebuah angan…

Wednesday, February 3, 2016

TERBANG

By;Eris Herisno

Aku…, punya banyak mimpi
Yang tergantung,
Melayang tanpa kendali
Mimpi tentang dunia
Tentang akhirat
Dan tentang segala yang belum ada
Mimpi-mimpiku bersayap patah
Hingga kadang jatuh,
Dan tersungkur di kubangan berlumpur
Atau di semak belukar,
Yang sangar…
tapi selalu kucoba bangkit kembali
Untuk terbang tinggi lagi
Karna ku tak mau, mimpiku berserakan
Di hamparan tanah resah
Tergeletak tak berdaya
…aku tak tahu..
Entah berapa mimpi-mimpiku yang sudah menjauh
Meninggalkanku, sendiri dalam sunyi
Melayang terbang..ke langit nan tenang
Entah berapa juga mimpiku
Yang terjatuh, lalu bangun lagi
Atau bahkan tertidur..
Lelap selamanya…
…sering ku berteriak
Lantang menggelegar
Sekedar membuang gelisah, agar lepas berhamburan
Sekedar mengosongkan napas, yang sesak dan serak
Gelisah karna mimpi yang tak jua kembali
Atau karna mimpi yang lelap, asyik bermimpi tentang mimpi-mimpi
..entahlah…
Entah sampai kapan mimpiku menjelma
Menemani, sembuhkan sayap
Dan bangunkan tidur yang lelap
Entah sampai kapan ku ikut terbang
Melayang tenang
Tersenyum lepas
Mereguk madu dunia akhirat
Mungkin esok lusa
Atau bahkan sekarang
Saat kau…,
Venusku
Kuncupku
mulai ikut bermimpi
Iringi mimpi-mimpi terbangku