Sunday, February 7, 2016

AKU DAN ISTRIKU

By; Eris Herisno

Tak terasa..
Lama kita berpijak pada bumi yang sudah tua ini
Bersama, arungi samudera
Mengelilingi bumi, lewati belantara
Membelah awan dan lautan
…dulu…
Saat awal kita bentangkan layar
Yang robek disetiap tempat
Dengan segala keterbatasan
Kita satukan tekad di pelaminan
Akhiri masa lajang TANPA BEBAN
…Tak ada harta warisan yang kita bawa
Tak ada jabatan yang kita sombongkan
Kita berdua…
Adalah buruh pabrik yang udik…
Yang lugu
Tapi kita percaya.
Bahwa rizqi bukan kita yang mengatur
Kita yakin, barang siapa yang dekat denganNYA…
Maka IA akan menolong…
Saat itu…
Seminggu setelah nahkoda terbangun
Kita pergi untuk mandiri
Walau hanya sehelai tikar, dua bantal, dan beberapa pakaian  yang kita bawa,
Sekedar alas untuk hangatkan badan dari dinginnya lantai…
Dan…, kita tak pernah mengeluh…
Semua dijalani apa adanya
Senyum tawa dan canda duka kita goreskan
Dibuku kehidupan
Kita bukan tipe orang yang  suka pilih  pilih
Yang banyak menuntut pada tuhan …
Lalu…
…hari berganti hari…
Bulan dan tahun pun berlalu
Tak terasa…sudah 14 kontrakkan yang kita pijak
Dan 9 tempat yang kita jajaki..
Juga segudang duka dan tawa kita lewati
Aku…sang buruh
Dan kamu…sang buruh yang mencoba untuk tumbuh
Dari kuliah lagi, hingga kursus kamu geluti..
Semua mengalir apa adanya…
Lalu taqdirpun membawa kita keruang yang berbeda…
Alhamdulillah…
Kita syukuri semua nikmat ini
Semua yang kita punya
Bukan titipan dari warisan
Atau dari pasangan tajir yang sering orang impikan
Dan itu…, kebanggaan yang tak ternilai harganya.
Sekarang…
Tiga mawar t’lah tumbuh dan beranjak dewasa
Dan itu juga harta termahal yang tak mungkin dimiliki oleh yang menikah senja
Godaan bahtera, itu biasa
Karna kita hidup dilautan yang pasti dihadang gelombang
Dan kita bukan malaikat
Kita, bukan lahir dari rahim ulama
Semua cobaan hidup, kita hadapi bersama
…….
Inilah sekelumit perjalanan hidupku
Dan aku bangga
Bagaimana denganmu…?

No comments:

Post a Comment